“Tata (Panggilan sayang sang ibu padanya), ibu ingin sekali menghadiri acara wisuda dan pernikahanmu”
Kabut gelap belum saja berlalu. Suasana pagi tidak secerah biasanya, mentari belum kunjung menampakkan wajahnya. Tiada hujan, tetapi tidak terlihat keramain di pagi itu padahal waktu menunjukan pukul 7 lebih. Maklum, biasanya suasana kost nan ramai oleh rutinitas persiapan perkuliahan di kampus pendidikan yogyakarta itu tiba-tiba terasa sepi.
Tampak seorang wanita dengan mengenakan jilbab lebarnya warna coklat sedang termenung. Ia orang yang disegani dikomunitas kosnya, mungkin karena ia yang paling tua diantara yang lain atau boleh jadi karena ia salah seorang yang senior dan memiliki peranan penting dikomunitas dakwah kampus mereka. Ia orang yang ramah sehinga wajar saja teman-teman merasakan hal yang aneh di pagi itu. Pasalnya, setelah sholat shubuh biasanya mereka mengadakan pertemuan dan bincang-bincang tentu saja setelah mereka wiridan ma’tsur, kali ini tanpa kehadiran beliau. Teman-temanya tidak berani menanyakan kondisi beliau, mereka mengira mungkin lelah karena kemarinnya seharian mengikuti dauroh.
Tiba-tiba saja mereka terkejut ketika menyaksikan orang yang paling mereka segani dan menjadi panutan duduk termangu, badannya lemas dan matanya berair. Selepas sholat shubuh ia mendapat telphon dari ayahnya yang jauh di pulau sumatra. Seluruh tubuh bergetar dan keringat membasahi sekujur tubuh saat suara tegas sang ayah menyampaikan “Ibunda telah mendahului kita ke syurga”. Tangisanpun tak tertahan.
Beberapa hari sebelumnya ia sudah mendapat khabar bahwa ibunya sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Akan tetapi saat itu sedang ada ujian semester ditambah lagi aktivitasnya sangat padat karena dua amanah dakwah yang ia jalani sekaligus, cukup menguras tenaga dan pikirannya. Tak terbayangkan, kader dakwah kampusnya banyak tersebar, tapi masih ada saja yang rangkap jabatan penting, apalagi di usia studinya yang telah masuk tahun ke 5 memiliki masalah yang membutuhkan perhatian para mas’ulnya.
Kenapa aku tidak pulang? Kenapa nasibku seburuk ini? Suara penyesalan wanita itu lagi-lagi terulang. Ia marah dengan dirinya sendiri karena tak ada seorang pun yang mau menggantikan salah satu amanahnya di kampus saat sang ibu berpesan padanya beberapa bulan sebelum kepergiannya di bulan syawal “Tata (Panggilan sayang sang ibu padanya), ibu ingin sekali menghadiri acara wisuda dan pernikahanmu”.
Pagi itu juga ia langsung berangkat ke sumatera setelah di belikan tiket pesawat oleh sang ustadzh. Sang ustazhlah yang memberikan ketenangan dan ketegaran jiwanya, seakan-akan hanya beliau yang dapat mengerti dan memperhatikannya saat duka melanda.
Dua pekan berlalu, rutinitas dakwah kampus berjalan seperti biasa. Walaupun sebagian ikhwah mulai kebingungan mencari pengganti untuk menghandle sementara amanahnya. Apalagi bagi sang mas’ul, setelah dihubungi ia memutuskan untuk tidak balik lagi ke jogyakarta untuk beberapa waktu yang tidak ada kepastian. Pasalnya ia harus menjaga dan mendampingi sang ayah karena sakitnya kambuh setelah kepergian sang istri.
Aku memutuskan untuk mendampingi sang ayah, ungkapnya dengan tegas walau terdengar parau karena kurang tidur dan banyak menagis dalam sebuah telphon seluler kepada sang mas’ul. Sebenarnya berat hati untuk meninggalkan amanah dakwah, akan tetapi takdir Allah menghendaki demikian (ungkapnya dalam hati).
“assalamu’alaikum.wr.wb, teh ana minta diuruskan kepindahan ngaji ana di sumatera. Ana tidak tahu apakah masih dapat melanjutkan kuliah atau tidak, karena sakit ayah makin parah dan kaki sebelah kanannya akan di amputasi”. SMS itu ia kirim ke Teh Anik sang ustadzah yang mendampingi dan membimbingnya ketika masih kuliah.
Teh anik (0813000xxxx)
Ukhti, coba ingat saat kita rihlah ke Bonbin Gembiraloka. Perhatikan kicau burung disekeliling kita yang begitu merdu. Alunan seruling angin yang bertiup melalui celah-celah kabut dingin. Gemercik aliran sungai ketika berbenturan dengan batu cadas. Dan sekali-kali dilengkapi dentuman bedug kehidupan yang terasa begitu keras. Perhatikan ukhti, suara-suara itu membentuk sebuah irama merdu dan mengasyikkan. Nikmatilah, buatlah seribu satu tarian harapan. Allah tidak akan memberikan irama kehidupan kecuali sesuai dengan kemampuan hambanya. Oya, ana sudah menghubungi ustdzah Fitri nanti beliau menghubungi anti.
Semua orang paham kalau sebuah irama merdu tidak berasal dari satu jenis suara. Ia merupakan perpaduan berbagai suara yang boleh jadi terkesan tidak sejalan atau bahkan bertentangan. Ada warna halus alunan seruling, ada dentuman kasar suara dram. Ada lengking gema dawai. Itulah warna-warni rasa kehidupan. Ada warna halus suara bahagia, ada warna kasar suara duka. Silih berganti suara itu mengalun, membentuk sebuah irama.
Sobat, begitulah irama hidup. Nikmatilah melodi indahnya. Buatlah tarian syukur dan lantunan sabar. Agar perjalanan hidup benar-benar mengasyikan. Ingatlah Allah tidak akan membebani hambanya dengan apa yang diluar kesanggupannya.
Betapa banyaknya muslimah yang belum berkesempatan mengungkapkan rasa sayangnya secara utuh. Mereka cantik, salehah, bahkan terpelajar. Tapi karena belum jodoh, ungkapan sayang masih tetap tertahan. “Semoga Allah memudahkan urusan mereka,” ucap yani dalam lamunannya sambil menunggu sang pujaan hati pulang.
Sore itu, suaminya akan pulang kerja lebih awal. Sebagai seorang guru honorer di sebuah STM swasta di sebelah selatan kota yogyakarta, suami yani harus menempuh perjalan 45 menit menggunakan sepeda motor menuju rumahnya yang berada desa pegunungan kali urang.
Enam bulan sudah bahtera rumah tangga ibu asal kota gudeg ini berlayar. Sebuah waktu yang bisa dibilang lama buat ukuran mahasiswa, satu semester. Tapi, buat ukuran rumah tangga bisa dibilang masih sangat muda. Mungkin masih bayi jika diukur dari perjalanan rumah tangga yang bisa buat seumur hidup.
Di dalam penantian kepulangan suaminya, ia berharap sang pujaan hati akan memberikan sebuah kejutan dihari ulang tahunnya yang ke 23. Ia teringat masa-masa kelam yang pernah mereka lalui ketika masih diawal-awal kuliah yang sama-sama terlibat dalam sebuah organisasi dakwah kampus. Mereka pernah di ”sidang” dalam suatu forum yang dihadiri oleh ketua LDK dan Murobbi serta Murobbiyah mereka karena kedekatan mereka yang terlalu berlebihan dimata para aktifis dakwah kampus. Sebuah bait puisi berupa ucapan selamat ulang tahun yang digunakan sebagai barang bukti yang ditulis oleh Yudha untuk yani.
Bismillahirrohmaanirrohiim.
Teruntuk ukhti fillah
Suatu kenikmatan yang sangat berharga dalam hidup ini adalah kasih sayang Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Kasih sayang itu tumbuh dan berkembang hingga ia dapat menyinari setiap hati manusia yang berjumpa dengannya. Senyumnya yang memancarkan cahaya, seakan dapat meredamkan panasnya suhu kehidupan.
Dihari dimana berkurangnya usia ukhti yani, ana mendo’akan semoga pancaran kesolihahanmu senantiasa mewangi menyejukan jiwa.
Keep spirit and smile…..
Yoyakarta, 12 Juni 2005
Dari saudaramu
Yudha Pratama
Akhirnya sidang itu memutuskan Yudha harus tidak aktif dalam organisasi LDK agar terhindar dari fitnah. Mereka lega dan bertekad untuk saling menjaga hubungan dan tidak berkomunikasi lagi. Walau tidak aktif di LDK Yudha tetap terlibat keorganisian mahasiswa hingga ia menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan.
Sore sudah berlalu, maghribpun tiba, tapi sang pujaan hati tak kunjung pulang. Malam kian larut, tiba-tiba ada dering HP berbunyi “sayang, maafkan mas ya. Malam ini mas ga bisa pulang karena tadi tiba-tiba sepulang kerja mas diminta menggantikan ustadz Abdullah untuk mengisi dauroh di Gunung Kidul dan harus bermalam disana hingga esok subuh”. Sebuah SMS dari sang pujaan hati.
Hidangan special untuk makan malam yang sudah disiapkan sejak sore sudah mulai dingin ditiup dinginya udara malam di pegunungan kali urang. Harapan akan mendapatkan pujian dan kecupan hangat dari sang suami di hari ulang tahunnya sudah mulai pudar dalam sunyinya malam. ”Ya Allah berikanlah kemudahan dan keselamatan setiap aktivitas sang ustadz mudaku, pujaan hatiku, calon ayah dari anak-anaku”. Yani mengakhiri penantian malamnya sambil melangkah menuju kamarnya.
Ketika hendak membaringkan tubuh diatas dipan sederhana itu, tiba-tiba ia terkejut melihat sebuh bungkusan kecil yang ada diatas meja belajarnya. Perlahan ia buka kota kecil yang dibungkus dengan kertas koran seakan mengingatkan kenangan masa-masa aktif di LDK saat agenda tukar kado silang antar departemen.
Bismillah, subhanallah...
Ya Allah, nikmat yang manakah lagi yang akan aku ingkari setelah sekian banyak nikmat yang telah engkau beri. Engkau telah percayakan hamba Mu ini untuk menjadi istri yang menjadi pelipur lara bagi suamiku, penyejuk jiwa saat duka. Ya Allah jadikan kami keluarga yang senantiasa menjadi hamba Mu yang bersyukur.Do’a sujud syukur yani yang di iringi air mata saat ia membaca sebuah surat di dalam kota kado ulang tahunya dari sang suami.
Duhai bidadariku,
Aku bukanlah seorang pangeran tampan yang senantiasa dapat memberimu istana megah,
Aku bukanlah saudagar kaya yang dapat memberimu seluruh isi dunia,
Aku bukanlah seorang ustadz yang senantiasa membimbingmu untuk menemukan ketentramanjiwa.
Aku hanyalah seorang yang senantiasa mencoba memberikan yang terbaik bagi agamanya, bangsanya baru kemudian engkau wahai jelitaku sang bidadari yang Allah hadiahkan dalam hidupku.
Selamat ulang tahun semoga dengan berkurangnya usia ini dapat menjadi hikmah di kemudian hari.
Penghujung malam. Sang khalifah, Ali Bin Abi Thalib, berdiri di tengah mihrabnya. Sendiri. Tangannya menengadah ke langit. Air matanya tumpah ruah. Lirih benar ketika do'anya memecah sunyi, "Tuhan, biarlah dunia ini hanya ada dalam genggaman tanganku. Jangan biarkan ia masuk ke dalam hatiku."